Memilih Pasangan Hidup
Saat usiaku masih muda, pola pikirku dalam mencari pasangan hidup untuk menikah sangat jauh berbeda ketika sudah menginjak usia tiga puluh tahun. Rata-rata wanita dewasa yang sudah memasuki usia tiga puluh tahun memiliki pola pikir yang sudah matang dan cenderung memilih pasangan berdasarkan sifat dan pola pikir dari lawan jenis daripada wajah atau bentuk tubuhnya. Well, kan tidak semua yang rupawan memiliki pola pikir bertanggung jawab, dan tidak semua yang memiliki bentuk body goal memahami bagaimana memperlakukan pasangan dengan baik. Semua itu tergantung dari pola pikir dan sifat dasar yang dimiliki pada individu itu sendiri.
Kematangan pola pikir diperlukan dalam memilih calon pasangan hidup. Tidak hanya karena wajah yang rupawan atau body yang berlekuk dan berotot menjadi bahan pertimbangan, melainkan bagaimana dia bersikap dalam kesehariannya, lingkungannya, sekitarnya, dan bagaimana pola pikirnya dalam menghadapai masalah yang ada dalam kehidupannya; apakah cenderung menyalahkan orang lain, marah-marah tidak jelas, kabur dari masalah atau mampu bertanggung jawab, menghadapi masalah dengan tenang, mencari solusinya daripada mencari siapa yang salah atau benar. Itulah yang menjadi acuan dasar dalam mencari pasangan hidup.
Kepribadian seseorang dinilai dari bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, bagaimana dia memperlakukan orang tuanya, saudaranya, karyawannya, tetanggganya, dan orang-orang lainnya, lalu dari situlah aku menilai bagaimana dia akan memperlakukanku sebagai pasangannya nanti.
Dicintai bukanlah satu-satunya hal yang harus menjadi poin penting dalam hubungan, pastikan juga bahwa pasangan kita menghargai dan memanusiakan kita dan begitupula kita sebaiknya memperlakukan pasangan kita dengan penghargaan yang sama.
Comments
Post a Comment